Saya seorang perempuan yang selalu belajar untuk bersyukur
atas rahmat yang begitu luas Allah SWT berikan kepada saya. Menjadi perempuan
dewasa yang bisa memahami diri sendiri dan orang lain merupakan jati diri yang
sudah saya temukan ketika saya menjadi seorang profesi apoteker. Dulu sebelum
saya mempunyai gelar profesi apoteker, saya seorang perempuan yang egois tanpa
alasan namun sekarang saya mengerti, bila saya harus egois pun itu harus dengan
alasan yang tepat dan benar. Ternyata profesi apoteker telah menjadikan saya
mempunyai jati diri, alhamdulillah.
Untuk sekarang, dari pengalaman saya berumah tangga. Sebelum saya berpisah, saya pernah mendengar cerita dari kawan, bila saudaranya yang bercerai dan menikah lagipun juga mengalami hal yang sama seperti rumah tangga sebelumnya. Ternyata setelah saya pahami, sebelum memutuskan untuk menikah lagi setelah bercerai harus bermuhasabah diri. Intropeksi diri untuk menyadari kesalahan dan kekurangan di dalam rumah tangga sebelumnya agar tidak terulang lagi untuk rumah tangga yang barunya. Selama kurang lebih satu tahun saya berpisah dengan suami dan belum resmi bercerai, saya belum terpikir untuk menikah kembali. Namun setelah saya mengetahui, ternyata kekurangan itu ada pada sekufu. Artinya saya seorang profesi apoteker yang menikah hanya dengan lulusan sarjana bukan profesi, dari segi ilmu dan pengetahuan tidak setara. Jadi, saya menyadari dan memahami apa yang harus saya utamakan untuk menunggu jodoh baru terbaik tak terhingga dari Allah SWT, selain agama dan akhlak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar