Perempuan itu merupakan makhluk yang memakai perasaan daripada
logika. Bila laki-laki menggunakan logikanya dalam bertindak ataupun bersikap,
tidak untuk seorang perempuan yang menggunakan perasaannya. Jadi, tidak heran
bila perempuan bisa terluka hatinya dengan sikap dari laki-laki yang tidak menggunakan
perasaan. Namun, setelah saya pahami dengan keadaan sikap laki-laki yang
seperti itu, tidak ada salahnya perempuan belajar untuk membedakan mana yang
harus mengutamakan logika dan mana yang harus menggunakan perasaan.
Bagi saya, butuh waktu tidak kurang dari satu tahun untuk
bisa move on dari kegagalan berumah tangga. Dengan masa tunggu tiga bulan dalam
agama islam, cukup untuk saya menutup hati untuk tidak lagi kembali kepada
suami. Setelahnya, saya belajar untuk move on dengan menggunakan logika dan
perasaan. Bila jodoh itu tidak akan menyakitkan hati, jiwa dan raga. Bertahan
di dalam rumah tangga yang seperti neraka hanya karena anak itu tidak di
benarkan, karena bukan hanya diri sendiri yang menjadi korban KDRT, anak juga
bisa ikut terkena dampaknya. Alhamdulillah, saya memprioritaskan kebahagiaan
diri dan anak saya. Karena saya percaya, nanti juga anak akan mengerti dengan
seiring waktu penyebab perpisahan orang tuanya. Saya berharap nantinya jodoh
yang baru bukan hanya bisa menjadi suami terbaik, namun juga sosok papa yang
teladan untuk anak kandung saya.
Untuk bisa bertemu dengan jodoh yang baru, tentunya harus
pulih dari masa lalu. Sehingga nantinya tidak ada membandingkan masa lalu
dengan masa yang akan datang. Sekarang saya menunggu jodoh baru terbaik dari
Allah SWT, karena saya sudah tidak mengharapkan untuk bisa kembali ke jodoh
yang lama. Di tambah saya merasakan, ternyata ada perbedaan berkomunikasi
dengan profesi dan bukan profesi. Tentunya nanti akan berpengaruh jelas bedanya,
karena saya menyadari permasalahan intinya hanya ada di komunikasi yang tidak
sekufu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar