Alhamdulillah, saya seorang profesi apoteker yang menikah
dengan status perawan. Katanya sudah edisi terbatas saja, maka dari itu saya
bersyukur keperawanan saya bisa terjaga sampai saya menikah sah dan resmi.
Hanya saja, karena saya berpikirnya suami saya juga perjaka, ternyata jejaka.
Tentu akan beda pemikirannya dengan saya. Di tambah dia tidak sekufu dengan
saya, sarjana namun bukan profesi. Di dalam berumah tangga ada beda pola pikir dan tingkah lakunya, hanya saya bersikap untuk tidak mau tahu apa pekerjaannya diluar rumah dan tidak
ingin tahu isi hp nya sehingga membuat hati saya tidak lelah. Saya bersyukur diberikan
Allah SWT kemudahan dan keringanan dalam menjalani rumah tangga walaupun dengan
perbedaan pola pikir dan tingkah laku.
Sekarang saya ada di fase tarbiyah untuk menjadi lebih baik
di hadapan Allah SWT, melalui proses perceraian yang awalnya berat untuk saya
jalani. Namun akhirnya sampai juga ke sidang ikrar talak dan tidak tergolong
isteri nusyuz, membuat saya semakin bersyukur. Menikah tanpa melihat status itu
bahagia, dalam islam hanya perlu memilih laki-laki dari agama dan akhlak. Karena saya seorang profesi apoteker, harusnya memilih yang sekufu dengan sama-sama profesi
dan sarjana. Saya yakin, bila sudah bertemu dengan jodoh terbaik dari Allah SWT
yang sekufu akan bisa lebih bahagia tanpa memandang status saya sebagai janda
yang awalnya berstatus perawan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar