Sebelum menikah, saya mempunyai kisah cinta yang biasa saja. Menjalani komitmen dengan seorang laki-laki untuk serius sampai kejenjang pernikahan. Hingga akhirnya saya lulus profesi apoteker dan dia lulus sarjana kesehatan masyarakat. Saya memang berniat setelah lulus untuk bekerja dahulu selama satu tahun, setelahnya saya berpikir untuk siap menikah. Dan akhirnya saya menikah dengan laki-laki pilihan saya yang sudah menjalani komitmen selama 8 tahun. Pada waktu sebelum menikah, saya bisa menerima dia karena keluarga saya juga bisa menerimanya. Pada akhirnya setelah menikah, harapan saya diluar ekspektasi saya. Namun, saya bersyukur dikaruniakan anak laki-laki sholeh didalam pernikahan saya ini. Akhirnya pernikahan saya hanya bertahan selama 8 tahun 7 bulan. Ternyata dimasa perubahan isteri menjadi single mom itu melukai hati. Karena saya tidak pernah terpikir setelah menikah akan berakhir dengan perceraian. Untuk bisa sampai ditahap ridho dan Ikhlas perlu usaha, do’a dan tawakal. Sehingga akhirnya saya menyadari, saya ada di fase tarbiyah.
Saya berharap nantinya bisa bertemu dengan suami terbaik
dari sisi Allah SWT, yang akan menjadi sahabat dalam urusan agama, urusan dunia
dan urusan akhirat. Dan saya sudah bermuhasabah diri untuk memilih jodoh yang
sekufu saja. Ternyata kekurangan itu hanya karena menikah tidak dengan sama-sama
profesi. Setelah saya memahami sesama profesi itu bila berkomunikasi akan terasa
jauh berbeda di dalam pemahamannya. Jadi, sekarang saya sudah bisa memahami dan
menerima sebagai perempuan bila untuk memilih jodoh itu memerlukan ilmu
agama. Bukan hanya memilih yang seagama dan akhlak, namun sekufu itu akan sangat mempengaruhi keharmonisan dalam berumah
tangga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar